Minggu, 15 Januari 2017

Kisah yang Tersemat Semalam

Gambar: Google
Semalam aku bermimpi
Mimpi yang buruk sekali
Sekali lagi ini tentangmu
Kau yang selalu hadir kala hujan yang mengingatkan lalu

Semalam aku menanti

Menanti fajar agar lekas terbangun dari rapuhnya rasa
Rasa yang kubuang dalam sumur yang kulalui sore tadi
Sore tadi saat kumemilih lupa tentang kita

Kau tahu?

Sore tadi sangat indah
Ada pelangi yang sedang menurunkan bidadaridengan selendang tujuh warna ke ujung bumi
Ada awan yang menyelimuti bumi seolah masih enggan bersatu membentuk diri
Ada juga gemericik air yang menyapa merdu sisa hujan yang tadinya deras merinai
Namun tetap saja,
Tak seindah saat kau menoleh padaku lalu tersenyum seolah malu pada langit jingga

Ah.. berhentilah!

Bukankah aku hanya akan bercerita tentang tentang kisah yang tersemat semalam?
Dasar perempuan!
Selalu saja candu akan rindu
Berhentilah menyimpan bahagia masa lalu
Seperti membuka akun medsos sendiri lalu scrolling sampai ke postingan pertama
Kau mungkin akan bahagia mengenang semua
Sampai satu tanya kembali menyapa
Kau tetap cinta atau hanya terjebak nostalgia?

Lupa.
Aku tak tahu harus lupa apa
Kita bahkan tidak pernah memulai cerita
Hanya sepenggal kata setiap pertautan mata
Dan sedikit cinta dari senyum kita berdua

Entahlah
Aku tak mengerti soal rasa
Rasa selalu saja membuat gila
Gila memang dekat dengan cinta
Cinta pun aku tak tahu apa

Cinta tidaklah asing bagiku
Dua puluh dua tahun lalu, Orangtuaku menyematkanku nama "Cinta"
Apakah karena aku buah cinta mereka?
Atau justru agar anak pertamanya ini dicintai sekitarnya?
Apapun itu, Aku tahu itu baik untukku
Sampai kusadar, kau tak mencintaiku mungkin karena kau tak dihadirkan untuk disisiku

Tenanglah!
Aku baik-baik saja
Sangat baik
Setidaknya dihadapanmu dan beberapa orang yang sedang menyaksikanku membeberkan cerita tentangmu malam ini

Aku tahu benar
Tak ada yang tahu aku dengan benar
PAling tidak, sampai aku pulang ke rumah dan kembali sendiri lagi
Sendiri selalu membawaku tersenyum bahkan menertawakan takdir yang menimpaku saat ini

Kau mungkin bertanya 
Tak cukup lelahkah aku tahtakan rasa padamu?
Ya.
Aku lelah. Bahkan saat hujan dan matahari silih berganti menyapa dedaunan di depan rumah
Aku masih saja berserah

Lalu aku harus apa?
Menanti hujan? Agar ingatan tentangmu kembali membuncah?
Atau aku harusnya terbiasa agar sudah tak ada rasa?
Yang kutahu, aku harusnya tidak memaksakan
Memaksakan menggenggam atau bahkan memaksa melupa

Baiklah.
Lupakan saja bahkan saat kau tak ingat apa yang masih kau kenang

Aku tadi ingin membahas apa?
Oh ya, kisah yang tersemat semalam

Semalam hujan
Hujan yang selalu kunanti bahkan saat ia baru saja berpamitan
Sama halnya dengan dirimu
Menanti bukan soal waktu tak bersua yang telah sewindu berlalu
Sedetik saja beranjak, penantianku pun akan kumulai dari 0 lagi
Penantian keras kepala memang selalu menghadirkan rindu yang tak memperdulikan ada dan tiadamu disini

Semalam hujan

Ya, hujan seperti kemarin malam
Saat itu aku tak menyadari datangnya hujan
Hanya beberapa helai pakaianku di jemuran saja yang basah dan dingin berselimut angin malam
Aku mungkin terlelap sambil memendam
Memendam rasa yang selama ini kusimpan

Berbicara tentang hujan, 

Hujan memang patut dinanti
Bukankah saat hujan pinta pun akan dituruti?
Tuhan kan telah berjanji
Malaikatpun ikut mengamini
Lalu saat hujan, apa yang kau ingini?

Apa kau juga berdoa memintaku memberi hati?
Seperti semalam saat kuberbisik lirih
Memohon Tuhan memberi sanksi
Atas dosa yang kuperbuat karena kau selalu saja kuingini

Aku tahu aku salah
Salah karena terlalu mendamba
Padahal kau bukan siapa-siapa
Kau hanya sebagian kecil ciptaan dari sang Pencipta

Aku mulai tersadar
Mungkin Penciptaku sedang mengira aku melanggar
Memainkan rasa yang seharusnya belum terpancar
Penciptaku mungkin saja cemburu denganmu yang belum halal namun kuincar

Aku tak pernah menyalahkan takdir
Meskipun aku selalu berbuat salah dalam takdirku
Takdir tidak pernah salah
Karena kesalahan mungkin sudah takdir

Lalu, apa lagi?
Semalam, aku akhirnya memilih terlelap
Diatas kasur berselimut merah muda
Aku sebenarnya tak suka warna itu
Tapi tak apa.
Karena warna lainnya mengingatkanku padamu
Setidaknya dengan begini, aku hanya akan mengingat masa kecilku
Saat aku bermain dengan tetangga di depan rumah
Bermain berbagi dan bercanda
Setidaknya, waktu itu aku tak punya alasan untuk bersedih


-
Sekian


Makassar, 15 April 2016


Well..
Saya pernah mendengarkan kalimat ini dari seseorang. Kurang lebih seperti ini katanya: "Penulis dikatakan hebat ketika dia mampu menuliskan hal diluar zona pribadinya." Nah. Saking termotivasinya saya menjadi penulis hebat,  saya selalu mecoba keluar dari apa yang kualami secara pribadi untuk menuliskan sesuatu.*haseekkk.. Belum sepenuhnya berhasil sih, tapi ini masih terus akan kuusahakan.

Salah satunya mungkin puisi diatas. hihi
Ini adalah puisi yang hadir saat mengerjakan project dadakan bersama kak Aikecil dan kak Dirga. Dua orang yang tanpa sengaja saya kenal dan akhirnya saling iya untuk mengerjakan project kolaborasi. Halahh project. Gaya amat bu :D

Sempat tak percaya sih. Jadi pembagiannya, saya yang buat puisi dan bertanggungjawab membacakan, lalu kedua kakak ini yang akan membuat instrumen pengiringnya. Musikalisasi puisi begitulah namanya.

Beberapa pekan kami menyiapkan diri masing-masing.
Mengerjakan tugas masing-masing dan juga galau masing-masing. haha. nggak deng..
Saya saja yang galau. :D
Pada saat itu rasanya cari inspirasi susaaaaaaahhhh banget.

Oh iya lupa. Berbicara tentang project kolaborasi, ini dia awal mulanya. jengjengggg....

Tahun 2016 adalah tahun saat saya tergabung dalam kepanitiaan Pesta Komunitas Makassar. Alhamdulillah pada saat itu diamanahkan menjadi salah seorang panitia inti. Pekan demi pekan kami lalui. Banyak sekali komunitas yang tergabung. Saya lupa angka konkretnya. Saya hanya tahu bahwa ternyata anak muda Makassar keren! Keren itu adalah sebutanku untuk orang yang luar biasa. luar biasa karyanya, luar biasa tingkah lakunya, luar biasa idenya, dan luar biasa kinerjanya. Akumulasi keluarbiasaan itulah menghadirkan kata "keren." haha. Ini serius :D

Ok next..
Mungkin akan ada tulisan yang menceritakan Pesta Komunitas ala saya. Mungkin yah.. Semoga iya.

Baiklah.
Intinya, secara tak sengaja, pada salah satu rapat kepanitiaan akhirnya saya dipertemukan dengan seseorang yang bernama Aikecil. Orangnya lucuuuu.. Bisa dibilang begitu. Mungkin itu sebabnya beliau ini tergabung dalam komunitas Stand Up Indo Makassar. Saya juga kurang tahu. atau mungkin kelucuan itu adalah salah satu efek yang wajib dimiliki tiap anggota komunitas itu. Apapun itu, beliau ini lucu dan baik banget. Saya teringat katanya: "Tak usah risau. Manusia telah dibekali keahlian masing-masing. Tak perlu menguasai semuanya. Cukup perkuat kekuatan yang kau punya. Kau pun akan terlihat oleh Dunia" wow.. That's the point. Kalimat yang sontak membuat saya berpikir, "Lalu, kekuatan saya apa?"

Berhubung tak kuketahui juga kekuatanku saat itu, saya lebih memilih mencari hal yang selama ini kuimpikan. Tadaa... kutemukan juga. Saya sangat ingin dapat membacakan puisi karyaku di depan banyak orang. Entah mimpi itu kapan datangnya. Yang kuingat, impian itu sudah sejak lama.

Percakapan mulai terjalin antara kami berdua. Saya pun mulai menceritakan mimpi itu. Tak kusangka, kak Aikecil malah mengajak berkolaborasi. Ternyata, kami memiliki impian kecil yang sama. Bedanya, beliau ingin menjadi pengiring puisi. Satu bocoran lagi, kalau bicara tentang skill memainkan gitar, kak Aikecil ini asli jago banget.

Next..
Berhubung lagi nih yah kami sama-sama tak suka ambil pusing, kami pun sepakat seiya sekata untuk berkolaborasi. *dikitalayyah

Singkat cerita, Bertemulah saya dengan kak Dirga. Salah satu partner dalam project ini juga. Kak Aikecil yang mengenalkannya padaku, First meeting, kami bertemu, berbincang, daaaan pada saat itu juga kami langsung proses reading. *asiikkk
Proses dimana saya harus membacakan puisi yang telah saya buat dan dicocokkanlah instrumennya oleh kakak berdua tadi. Tak lama. Hanya sekitar setengah jam.

Setelah itu?
Tak ada lagi.
Saya sempat berpikir untuk menghasilkan sesuatu melalui proses kolaborasi artinya kami perlu untuk lebih intens bertemu dan berlatih.
Tapi tidak dengan kami.
Satu hal yang kami yakini pada saat itu: "Kita saling percaya saja pada kemampuan kita dan partner kerja kita. kita hanya butuh bertemu untuk finalisasi. selebihnya, berlatihlah masing-masing."
Agak aneh mungkin yah.. Tapi itu yang kami lakukan. Latihan hanya dua kali. Pertemuan pertama dan sekali sesaat sebelum menampilkannya di depan umum.
Tapi entah kenapa juga, tak sedikitpun ada keraguan yang kurasakan. Gugup sih banyak mbak.. Yah namanya juga pertama kali :)

Finally..
Kami akhirnya menampilkan musikalisasi puisi kami. Kami menyebutnya project kolaborasi komunitas Blogger Kampus dan Stand Up Indo
Makassar. Asik bukan? hehe
Alhamdulillah lagi, kami mendapatkan respon positif dari penonton saat itu. Bahagia rasanya.
Walaupun kami betlatih komplit hanya dua kali, tapi saya pribadi harus membaca puisi itu berulaaang ulang kali tiap hari.
Memikirkan bagaimana dapat merasakan hal yang tertuliskan meskipun tak sedang terasa.
Memikirkan bagaimana dapat menghayati hal yang dibacakan meskipun tak sedang menjadi cerita.
Sampai pada saatnya saya harus mengharuskan diri untuk bisa.
Ada kepercayaan yang sedang menuntutku.
Ada impian yang sedang menagih keseriusanku.
Ada dia yang sedang menyaksikanku. haha. yang terakhir ini tidak kok :D

Yup.. itulah mungkin kisah singkat hadirnya puisi ini.

Satu lagi fakta dibalik puisi ini:
Saya lagi suka-sukanya dengan puisi-puisi Aan Mansyur saat itu. Berulang kali juga kuputar dan kusaksikan beliau membacakan puisinya. Meskipun puisi yang ini masih dini, tapi saya bahagia.

Puisi yang lahir tanpa menengok kebelakang.
Puisi yang lahir dengan penuh warna.
Puisi yang melibatkan rasa namun bukan berati sedang saya rasa.
Rasa yang tidak biasa.

Intinya apa?

Saya mensyukuri semua karya yang berhasil saya selesaikan
Saya mencintai mereka walaupun saya sadar banyak kurang yang masih tersisa
dan saya akan tetap seperti itu
Kalau bukan saya, siapa lagi? hehe

-Sekian untuk kesekian kalianya.















Kamis, 05 Januari 2017

Belajar Dari Patriot Energi Indonesia

Indonesia bukan negara miskin
Jika ingin, tak ada yang tak mungkin

Ada anak muda yang pantang menyerah menjawab persoalan
Sebab mereka yakin Tuhan selalu menjanjikan perubahan
(Patriot Energi) - sajakantigalau.wordpress.com

Patriot bukan tentang tersakiti, tapi syukur yang selalu dinikmati
Tanpa syukur langitpun tak kuasa menampung keluh orang-orang serakah

Patriot itu tak diam meski tersisih
Tetap melawan dengan literasi
Kuat bukan soal fisik
Tapi hati yang utuh untuk menghormati dan membangun negeri

Tak henti menulis dengan tangan sendiri
Cerita nyata pengalaman pibadi saat mengabdi
Demi menginspirasi anak negeri
Agar mampu berjuang mulai dini

Tak perlu takut berkenala sampai jauh
Selama senyum dan mengangguk masih kau mampu
Dua bahasa yang universal
Mereka paham walaupun mungkin kau masih ayal

Patriot kadang lupa tren
Yang selalu ada menjawab harap dan permohonan

Inilah tugas mulia kita sekarang
Menjaga perjuangan untuk bangsa

Menulislah selama kau bisa
Agar kau abadi dalam sejarah

Makassar, 5 Januari 2017

Catatan ini adalah sebahagian kecil yang mampu kutuliskan tentang Patriot Energi. sebahagiannya lagi masih menjelma takjub dalam hati yang rasanya cukup untuk dinikmati sendiri. haseeekk. Niat sih bagi-bagi, tapi kata saja tak cukup :) Asli ini serius.

Hidup memang bukan untuk mencari senang semata. 
Kita juga harus ingat untuk membantu sesama. 
Karena hidup hanya sementara, jangan lupa untuk perbanyak pahala.

Nambah catatan lagi :D *gapapadengg

Intinya, jalan hidup orang berbeda-beda. Walaupun kita tak ditakdirkan menjadi Patriot, jangan berhenti berdoa agar tetap dapat memberi arti bagi sesama. Semuanya dimulai dari diri kita. Apapun itu, syukurilah. dan jangan lupa untuk tetap berjuang daaaan bahagia.hehe

Closing statement:
Thankyou buat Blogger Kampus yang telah menjadi wadah bagi pemuda-pemuda cendekia untuk terus berkarya dan berbagi. Sukses terus yah :)
Terimakasih juga yang sebesar-besarnya kepada Kak Ma'ruf M. Noor (Patrior Energi Indonesia) yang sudah ikhlas berbagi banyak hal kepada kami ^^

Sampai jumpa dan Salam Blogger!




Kamis, 11 Oktober 2012

MERINAI


Senja di sore hari memang indah. Tapi apakah akan tetap indah jika kumenikmati ini sendiri dengan rasa tak kunjung tentu.? Galau. Lagi tren kayaknya. Tapi aku justru bingung galau itu apa. Dalam defenisiku, galau semacam rasa tak tentu. Setiap kumerasa seperti itu, bilang deh galau. Tapi tak penting. Yang penting itu, sekarang aku benar-benar merasa sepi.

Aku termenung memandang langit yang seolah tersenyum padaku. Binar lengkung pelangi di atas sana seakan menjemputku bak bidadari surga. Haha. Indah yah.? Aku kembali tersenyum dan bertanya pada langit. Sampai kapan kau ‘kan tersenyum padaku? Sampai kapan kau ‘kan menjadi sahabat setiap langkahku.? Maklum, setiap aku galau ya spontan melihat ke langit.

Langit menjadi sandaran ketika ku ingin menangis. Langit juga menjadi pendengar yang baik ketika ku ingin bersorak, menepi termenung, ataupun hanya terdiam bisu. Ya, langit adalah salah satu ciptaan Allah swt yang sepertinya selalu mengerti suasana hatiku. Langit pun tak pernah diam. Bijak tutur yang terdengar darinya selalu memberiku senandung semangat. Pokoknya kalau lihat Langit biru yang membentang menyelimuti bumi ini pengen bilang w0w..
***
21 Juni 2013.
Hari ini aku ingin berjalan-jalan ke beberapa tempat yang telah ku torehkan dalam buku list perjalananku. Rencananya, hari ini aku ingin ke UNM. Aku punya beberapa teman di sana. Lama juga tak menghampiri kampus itu. Tapi apakah teman-teman kecilku masih sering berada di sana.? Seingatku, 1 tahun lamanya tak menyapa mereka.

Melangkahkan kakiku keluar dari rumah memang berat. Selama ini, aku sangat susah mencari teman. Aku juga tak tahu mengapa banyak yang tak menyukaiku.? Apa karena aku jelek.? Ah tida juga. Apa karena aku ini menakutkan.? Tapi aku ini hanya ingin mencari teman. Diusiaku yang terbilang dewasa, aku hanya mendapat sedikit teman di hamparan bumi yang luas ini. Ya, mengingat hal ini membuatku menatap ke langit pagi yang cerah. 

“Langit, menurutmu tak apakah jika aku menyapa temanku di UNM pagi ini?”

Langit hanya tersenyum. Baiklah. Aku memberanikan diri keluar dari pintu yang perlahan berbunyi dengan geseknya berputar membentuk siku-siku. 

Takkkk…
Pintu segera kututup dan tak lupa berdoa kepada Allah swt.

Ya Allah, aku ingin ke UNM. Tuntunlah langkahku agar aku dapat menjadi pelipur kesedihan makhlukmu pagi ini. Aamiin”

Berdoa sebelum melakukan sesuatu membuatku percaya diri. Allah pasti didekatku.
***
Tadaaaaa…..
Sampai juga akhirnya. Lega. Kampus ini belum berubah. Ku pikir sudah bergeser 2 cm. haha. Nah, saatnya mencari teman-teman kecilku yang setiap pagi duduk di sebelah lapangan basket yang bersebranagn dengan parkiran jurusan Matematika. Kalau jam segini sih mereka duduk dengan memasang wajah letih, lesu, lunglai. Lelah banget deh pokoknya. 

Aku perlahan melangkahkan kaki memasuki kampus ini. Beberapa orang menatapku dengan pandangan yang seolah ingin menerkam. Ya Allah.. apa lagi salahku.? Aku tetap berjalan dengan menundukkan wajah beberapa derajat dari sebelumnya. Ingin menghindari pandangan semacam tadi. Sejauh ini, aku berhasil menutup mata dan menganggap semua ‘kan baik-baik saja dengan kedatanganku. 

Desah bisikan seorang yang kulalui mulai terdengar. 

“aduuh,,,, kenapa sih dia mesti datang?”

Lalu aku harus bagaimana dengan ini? Aku menoleh kearahnya dan benar sekali. Dia sedang membicarakanku. Aku merasa sangat sedih. Ingin rasanya aku menangis sekencang mungkin dan berteriak pada semua orang. Mengapa mereka menatap dan melontar untaian kalimat yang begitu menyiksaku? Aku tahu mereka sempurna. Aku tahu mereka memiliki segalanya. Aku juga tahu aku tak seperti mereka. Aku tak sempurna di mata mereka. Aku bukan apa-apa bagi mereka. Bahkan aku tak memunyai segala yang mereka miliki. Tapi apakah aku juga tak dapat merasakan kebahagiaan layaknya mereka yang merasa dunia milik mereka? Apakah aku tak dapat merasa tenang ketika melangkahkan kaki berjalan ke manapun aku mau? Apakah aku tak layak mendapat senyum walau hanya sedetik dari mereka.? 

Aku bahkan tak tahu bagaimana menghadapi itu semua. Mereka menatapku sinis, aku hanya tertunduk. Mereka mencemooh, aku hanya dapat berlalu dan menutup telinga. Tapi mata dan telinga yang tertutup tak menjadi jaminan hatiku juga tertutup oleh luka yang mereka ukir.

Aku sudah menduga sebelumnya. Hal ini yang membuatku begitu ragu. Yang ku tahu, Allah menciptakanku dengan alasan yang pasti. Allah memberiku wujud seperti ini juga dengan alasan. Karena aku hidup bukan sebagai pelengkap beraneka ragam bentuk di dunia ini. Tapi aku ada karena Tuhanku Allah swt. Langit memandangiku dengan sorot matanya yang tajam. Sedih yah melihatku? Kali ini aku mungkin hanya mencoba tegar dihadapan beberapa manusia yang tak senang dengan kehadiranku.

Tahu tidak kalian? Aku diciptakan tanpa tangan, dan tanpa hidung. Aku hidup karena Kekuasaan Allah. Keadaanku yang seperti inikah yang membuat orang-orang melihatku ketakutan? Bahkan melihatku dengan pandangan merendahkan. Hal inikah yang membuat mereka risih dengan kehairanku.? Aku tak henti bertanya dalam hati. Ya. Hanya “ya” yang menjadi jawab atas tanyaku. 

Lalu, apakah aku begitu mengusik mereka? Mengapa tak sedikit dari mereka yang berlari menjauhiku? Tak sedikit dari mereka yang berlindung pada punggung orang lain karena ketakutan padaku. Tak sedikit juga dari mereka yang mendendangkan kekesalan dan penyesalan akan hadirku. 

Kawan, aku juga ciptaan Allah. Dapatkah kalian menerimaku apa adanya.? Aku ingin menjalin persaudaraan. Aku tak pernah iri dengan kesempurnaan kalian. Aku juga tak pernah menyesal ditakdirkan seperti ini. Sampai pada saat kalian yang justru menyesalkan hadirku.
***
Terpuruk, terjatuh, dan sangat terluka. Itulah hal yang kurasakan setiap kali berjalan keluar rumah. Aku harus kuat. Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini. Setidaknya aku masih memiliki teman kecil yang mungkin masih berada  di tempat kami bermain dulu. Tangis yang mulai tak tertahankan kini meluap. Aku hanya berharap dapat bertemu temanku dengan cepat dan menceritakan segala hal yang kurasakan. Aku rindu canda tawa mereka. Aku rindu senyum mereka saat melihatku. Aku rindu ketika menari bersama mereka. Aku belajar arti hidup juga dari mereka. 

Mereka hanya anak kecil pencari sesuap nasi dengan menyapu lapangan tiap pagi dari dedaunan pohon yang gugur, sampah yang berserakan akibat ketidakdisiplinan hidup, dan beraneka kotoran yang ada. Mereka melakukan itu demi membantu orangtua mereka. Bersekolah tak dapat mereka rasakan akibat tuntutan kehidupan. Mereka seringkali menceritakan cita-cita mereka. Salah satunya ingin memunyai mobil putih seperti yang terparkir tepat disebelah lapangan tempat dia mencari nafkah. Ada juga yang ingin bersekolah dan berkuliah di jurusan matematika. Setiap hari mereka memandangi hal yang mereka inginkan dan berharap mereka dapat meraihnya dengan kekuatan doa dan kerja keras.

Mereka hanya anak kecil berusia sekitar 7 tahun. Tapi mereka justru jauh lebih dewasa menantang hidup dibandingkan aku yang sudah berusia lebih tua dari mereka. Aku terkadang malu ketika mengeluh dihadapan mereka. Mereka adalah anak-anak kuat yang menyelingi hari mereka dengan tawa lepas yang mereka anggap sebagai cara menikmati hidup. Aku ingin seperti mereka yang mampu tegar menyongsong matahari.
***
Hey… itu mereka. Ya. Aku rasa itu mereka. Aku ingin memeluk mereka dengan sekencang-kencangnya. Bahagia dapat bertemu mereka. Tapi apa mereka juga bahagia melihatku? Atau bahkan sudah melupakanku.? Ah..aku rasa tidak. Mereka anak baik.

Tunggu, mereka ber-4 tampak berbeda. Tak biasanya mereka beralaskan sepatu. Mereka juga menggendong ransel yang dulunya hanya karung sampah. Seragam. Mereka dulu hanya menggunakan baju lusuh dengan beberapa sobekan. Ya, mereka sekarang sudah bersekolah rupanya. Aku turut bahagia kawan. Aku ingin memberi selamat kepada mereka.

Spontan aku berteriak kencang dan memanggil mereka. 

“siska….dinda..andi..farel…”

Mereka menengok ke arahku dan terlihat sangat bahagia. Mereka ternyata masih mengingatku. Tak kusangka reaksi mereka justru lebih antusias. Mereka berlari kearahku. Akupun tak kuasa diam disini. Aku berlari ke arah mereka. Aku terdiam ketika mereka melepaskan seragam merah putih yang mereka kenakan, sepatu hitam, dan ransel mereka. lalu meletakkan dibawah pohon yang agak besar. Mereka kembali berlari dan bersorak akan kehadiranku. 

Aku bahagia. Sangat behagia. Aku memeluk mereka dengan lembut. Kami menari bersama, bercanda gurau, dan saling bercerita. 

“Selamat yah teman-teman. Kalian kini sudah bersekolah. Kejarlah cita-cita kalian. Jadilah manusia yang mulia. Kalian adalah penerus bangsa dan khalifah. Senantiasalah bersyukur”

Aku bangga pada mereka yang tak sombong dengan perubahan yang mereka dapatkan. Mereka dapat bersekolah dan tak lagi menjadi tukang sapu. Ternyata mereka dibiayai oleh seorang pengusaha muda yang selalu memerhatikan kegigihan mereka dalam menatap kehidupan. Mereka juga masih mau bermain denganku. Mereka malah terlihat begitu bahagia.

“Ya Allah, jadikan mereka anak bangsa yang mengharumkan nama negeri ini. Jadikan mereka khalifah yang mengiring para muslim mengabdi memujamu. Jadikan mereka anak yang tetap menjaga semangat mereka dalam menjalani hidup. Jadikan mereka insan yang dapat melalui segala ujianmu”

Merekapun membisikkan pesan padaku yang sangat menyejukkan jiwaku.

Hujan, lama tak bertemu. Kami merindukanmu. Kau selalu menjadi penyegar jiwa dan hati kami. Kau ciptaan Allah yang membawa berkah bagi kehidupan dunia ini. Terimakasih HUJAN”
***

Minggu, 07 Oktober 2012

Hiburan : Alasan Pramuria


Nusantara adalah tempat yang cukup booming di Makassar. Selain berada dekat dari tempat wisata –Pantai Losari dan Benteng Rotterdam- , Pelabuhan Peti Kemas juga terletak di jalan tersebut. Letak Geografis  merupakan salah satu alasan menjadikan Nusantara sebagai tempat hiburan malam. Hiburan malam memang selalu mengantarkan pemikiran kita ke arah negative –kaum hedonism dan kegiatan seksual pranikah- di tempat yang negative pula. Namun bagaimanakah sebenarnya tempat hiburan malam itu? Apa saja kegiatan dunia malam? 

Hiburan Malam adalah salah satu elemen kehidupan yang menghinggapi beberapa profesi. Hiburan malam dapat diartikan dengan hiburan semata, hiburan di malam hari, kegiatan malam yang kadang menjadi hiburan, ataupun dengan kategori  hiburan yang berbeda pula. Hiburan dalam batasan etika ataupun hiburan yang sudah diluar norma kehidupan. 

Pramuria –karyawati kelab malam yang bertugas melayani dan menemani tamu- sangat dekat dengan kehidupan malam. Mereka menjadikan Pramuria sebagai profesi dengan latar belakang yang berbeda dan tingkatan tugas yang berbeda pula. Pramuria yang  menemani para tamu sebatas duduk dan berbincang ataupun Pramuria pada tingkatan lebih tinggi lagi –menemani tamu tak sekadar duduk bahkan tidur-menjadikan profesi ini juga memiliki sekat. Terdapat perbedaan dari banyak segi –pekerjaan,tempat bekerja, juga gaji-dari Pramuria tersebut.

Berdasar hasil Investigasi tim Laput di jalan Nusantara II (6/10) sekitar pukul 24.00, diketahui bahwa Pramunia dibedakan menjadi tiga bagian ditinjau dari tempat bekerja. Pramunia yang bekerja di tempat karaoke, di cafĂ© (club malam), dan di kios-kios sepanjang jalan. Perbedaan tempat kerja juga membuat perbedaan pada pekerjaan Pramuria. Menemani duduk dan melayani adalah tugas Pramuria karaoke dan kios-kios. Sedangkan pramunia yang multifungsi adalah pekerjaan di clubhouse. Sebagaimana uraian pendapat salah seorang konsumen hiburan sejati yang tak ingin disebutkan namanya, “Karaoke khusus melayani tamu yang minum. Kalau yang di bar, ada 2 faktor yang ingin dibicarakan. Yang pertama melayani minum. Yang kedua kita layani dalam artian lain juga”.

Tempat kerja yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, tentu gaji yang berbeda pula. Ada yang mendapatkan gaji Rp20.000 perjam untuk Pramuria yang bekerja di tempat karaoke. Salah seorang pramuria mengungkapkan, “Saya dulu 1 jam 20.000. beda dengan tempat-tempat lain yang langsung dipake itu. Beda karaoke dan cafe”. Sedangkan para Pramunia kios-kios mendapatkan gaji perhari tergantung dari pemasukan pada hari itu juga. Salah aeorang pemilik kios mengatakan, “Terkait masalah honor tergantung hitungan perhari”. Lain pula halnya dengan Pramuria di clubhouse yang permalam tergantung dari kesepakatan konsumen.

Berdirinya tempat-tempat hiburan di Nusantara sekitar 50 tahun yang lalu. Tempat hiburan malam ini berdiri berdasar pada alasan banyaknya pengangguran dan anak putus sekolah. Ijazah yang menjadi prasyarat kerja yang layak tidak mereka miliki. Pramuria menjadi alternative bagi mereka. Semakin pesatnya sumber daya menusia dengan kualitas seperti itulah yang membuat tempat-tempat hiburan malam berkembang pesat. Salah seorang konsumen setia selama 50 tahun mengatakan, “Sejarahnya, anak-anak yang pengangguran itu istilahnya ndada dasar yah. Mau kerja di kantor perlu ijazah. Beda dengan tempat karaoke yang tidak menggunakan ijazah”

Ketika tim investigasi menanyakan latar belakang dari seorang pramuria karaoke, dia menjawab :Namanya manusia senang hiburan. Nusantara ini tempat hiburan. Saya begini sebagai hiburan”. Selain alasan perekonomian, tuntutan pekerjaan, ternyata Pramuria juga dianggap sebagai hiburan semata. 

Tempat hiburan malam juga kerap kali mendapat penggerebekan dari pihak kepolisian. Penggerebekan benda tajam, narkoba, dan tindak kekerasan. Pihak kepolisian yang sedang melakukan tugas ketika dimintai pendapat, berkata “Polisi hanya menjaga keamanan.  Keamanan dalam hal benda tajam, narkoba, dan perkelahian”. (*)